
Agape – Nanny 911
Hari ini gw nonton Nanny 911 sambil menunggu teman yang janjian mau nge-wi-fi bareng di IP. Tadinya mau jam 4an setelah dia pulang, tapi dia perlu ke dokter dulu jadi gw pikir mending nunggu di rumah aja n nyalain TV.
Di acara itu, ada sepasang suami istri yang mengadopsi 23 anak dari berbagai negara. Kebanyakan anak-anak itu adalah yang berkebutuhan khusus, entah cacat fisik, atau mental. Kebanyakan juga adalah anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya bahkan ada juga yang mengalami penyiksaan sampai otaknya terganggu, karena itu mereka sangat sensitif dengan kata “selamat tinggal”.
Yang menakjubkan, mereka melakukan semuanya sendirian. Menyiapkan makan pagi, siang dan malam. Mencuci. Mendongeng. Mendengarkan curhat anak-anak. Memisahkan anak-anak yang berkelahi. Sang Ibu, Ann, tidak bisa duduk sama sekali untuk beristirahat. Yang luar biasa, sang ayah pun, Jim, ternyata adalah orang dengan kebutuhan khusus. Tapi, mereka memang luar biasa. 3 nanny yang dikirim dari UK pun terperangah dan sangat takjub melihat pengorbanan mereka. Mereka Cuma memberi, memberi, dan memberi. Gw benar-benar melihat kasih Agape nyata dalam hidup mereka.
Para nanny yang datang selama sehari penuh mengobservasi keadaan rumah itu. Benar-benar luar biasa kata mereka, melihat Ann melakukan semuanya sendirian. Ann seperti gasing namun TIDAK PERNAH MENGELUH. Jadwalnya sangat padat. Dua kata untuk Ann, LUAR BIASA. Namun ada satu yang dilupakan oleh Ann. Taking a break. Istirahat. Sulit sekali memaksa Ann dan Jim untuk pergi bersenang-senang sendirian tanpa anak-anak. Biasanya kalau mereka liburan pun, mereka akan mengajak anak-anak yang paling sulit. Tapi akhirnya mereka bisa pergi walaupun mereka ragu bahwa para nanny bisa sukses menangani anak-anak itu.
Selebihnya adalah cerita yang mengharukan. Saya nggak bisa ceritakan saking panjangnya. Namun yang paling utama adalah : Pengorbanan luar biasa yang diberikan oleh sepasang suami istri yang tanpa pamrih memelihara anak-anak yang sebagian besar “memberontak” karena pengalaman-pengalaman traumatis mereka. Pada akhirnya memang ada perubahan besar yang dibawa para nanny dalam hidup keluarga itu, perubahan positif tentunya.
Waktu itu tiba-tiba kepikiran, “Can I do the same ?” Dan tiba-tiba gw merasa ragu. Ternyata gw harus lebih banyak belajar…
Gw benar-benar terharu…
Ada nasehat yang sering kita dengar namun sangat mengena ketika dikatakan oleh para nanny setelah melihat betapa kuatnya ikatan dalam keluarga itu : Berapa kali pun kita gagal, atau bagaimanapun orang bilang kamu tidak berguna – apalagi karena keterbatasan fisik dan mental kita, kalau kita memilikinya - itu tidak benar. Karena selama kita punya hati dan semangat, kita akan mampu melakukan apapun.
Dan satu hal lagi… Kita masih punya Tuhan. Bersama Tuhan, kita cakap melakukan segala perkara.
Sabtu, 4 Oktober 2008
16.20 – 16.55
Hari ini gw nonton Nanny 911 sambil menunggu teman yang janjian mau nge-wi-fi bareng di IP. Tadinya mau jam 4an setelah dia pulang, tapi dia perlu ke dokter dulu jadi gw pikir mending nunggu di rumah aja n nyalain TV.
Di acara itu, ada sepasang suami istri yang mengadopsi 23 anak dari berbagai negara. Kebanyakan anak-anak itu adalah yang berkebutuhan khusus, entah cacat fisik, atau mental. Kebanyakan juga adalah anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya bahkan ada juga yang mengalami penyiksaan sampai otaknya terganggu, karena itu mereka sangat sensitif dengan kata “selamat tinggal”.
Yang menakjubkan, mereka melakukan semuanya sendirian. Menyiapkan makan pagi, siang dan malam. Mencuci. Mendongeng. Mendengarkan curhat anak-anak. Memisahkan anak-anak yang berkelahi. Sang Ibu, Ann, tidak bisa duduk sama sekali untuk beristirahat. Yang luar biasa, sang ayah pun, Jim, ternyata adalah orang dengan kebutuhan khusus. Tapi, mereka memang luar biasa. 3 nanny yang dikirim dari UK pun terperangah dan sangat takjub melihat pengorbanan mereka. Mereka Cuma memberi, memberi, dan memberi. Gw benar-benar melihat kasih Agape nyata dalam hidup mereka.
Para nanny yang datang selama sehari penuh mengobservasi keadaan rumah itu. Benar-benar luar biasa kata mereka, melihat Ann melakukan semuanya sendirian. Ann seperti gasing namun TIDAK PERNAH MENGELUH. Jadwalnya sangat padat. Dua kata untuk Ann, LUAR BIASA. Namun ada satu yang dilupakan oleh Ann. Taking a break. Istirahat. Sulit sekali memaksa Ann dan Jim untuk pergi bersenang-senang sendirian tanpa anak-anak. Biasanya kalau mereka liburan pun, mereka akan mengajak anak-anak yang paling sulit. Tapi akhirnya mereka bisa pergi walaupun mereka ragu bahwa para nanny bisa sukses menangani anak-anak itu.
Selebihnya adalah cerita yang mengharukan. Saya nggak bisa ceritakan saking panjangnya. Namun yang paling utama adalah : Pengorbanan luar biasa yang diberikan oleh sepasang suami istri yang tanpa pamrih memelihara anak-anak yang sebagian besar “memberontak” karena pengalaman-pengalaman traumatis mereka. Pada akhirnya memang ada perubahan besar yang dibawa para nanny dalam hidup keluarga itu, perubahan positif tentunya.
Waktu itu tiba-tiba kepikiran, “Can I do the same ?” Dan tiba-tiba gw merasa ragu. Ternyata gw harus lebih banyak belajar…
Gw benar-benar terharu…
Ada nasehat yang sering kita dengar namun sangat mengena ketika dikatakan oleh para nanny setelah melihat betapa kuatnya ikatan dalam keluarga itu : Berapa kali pun kita gagal, atau bagaimanapun orang bilang kamu tidak berguna – apalagi karena keterbatasan fisik dan mental kita, kalau kita memilikinya - itu tidak benar. Karena selama kita punya hati dan semangat, kita akan mampu melakukan apapun.
Dan satu hal lagi… Kita masih punya Tuhan. Bersama Tuhan, kita cakap melakukan segala perkara.
Sabtu, 4 Oktober 2008
16.20 – 16.55
No comments:
Post a Comment